Amsakar juga menilai keberagaman tersebut menjadikan Batam sebagai salah satu kota dengan tingkat moderasi dan toleransi beragama yang tinggi di Indonesia. Capaian itu, menurutnya, merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono, menegaskan Batam sejak lama dikenal sebagai kota multikultural, tempat bertemunya beragam identitas suku, agama, ras, etnis, dan budaya.
Ia mengajak masyarakat menjadikan perayaan Imlek sebagai momentum memperkuat persatuan bangsa. Menurutnya, Batam mencerminkan kehidupan harmonis dalam keberagaman.
“Batam adalah miniatur Indonesia. Di sini kita melihat bagaimana keberagaman dapat hidup berdampingan secara damai dan produktif,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga harmoni dalam bingkai kebangsaan. Dengan mengusung semangat Harmoni Imlek Nusantara, ia mengajak seluruh masyarakat memperkuat persatuan demi mewujudkan Indonesia yang maju.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur dan pembangunan kewilayahan harus berjalan seiring dengan pembangunan karakter bangsa yang menjunjung tinggi toleransi dan persaudaraan.
Semangat kebersamaan terasa nyata sepanjang acara. Tidak hanya warga keturunan Tionghoa, masyarakat dari berbagai latar belakang turut merayakan dan saling mengucapkan selamat tahun baru dengan penuh kehangatan.
Puncak perayaan ditandai pesta kembang api yang menghiasi langit Nagoya tepat saat pergantian tahun. Dentuman kembang api yang memecah malam disambut sorak-sorai ribuan warga, menjadi simbol harapan baru bagi Batam yang harmonis, maju, dan semakin bersatu di tahun yang baru.







