“Kerja di Esun itu penyelamat ekonomi kami,” ujarnya.
Suaminya juga buruh pabrik, tapi di tempat berbeda. Penghasilan suami pas-pasan, dan pekerjaan Denti di Esun menjadi penopang penting keluarga.
“Gajinya cukup buat biaya sekolah anak-anak. Bisa bantu suami tanpa harus jauh dari rumah,” katanya.
Denti sudah dua tahun bekerja di sana. Menurutnya, Esun bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi ruang bagi perempuan untuk dihargai. “Kalau anak sakit, tinggal ambil cuti. Tak pernah dipersulit,” ungkapnya.
Ia merasa menjadi bagian dari sistem yang mempercayai kemampuan perempuan. “Kadang saya mikir, perempuan juga bisa jadi tiang ekonomi keluarga,” ucapnya pelan.
Pabrik yang Menjaga Manusia dan Lingkungan
Di balik cerita Nurul dan Denti, berdiri perusahaan yang mencoba menyeimbangkan produktivitas dan tanggung jawab.
Sejak berdiri pada 2017, PT Esun menjadi bagian dari denyut ekonomi Batam. Perusahaan ini mempekerjakan lebih dari 800 karyawan dan menyalurkan lebih dari Rp98 miliar gaji setiap tahun.
Namun bagi manajemen, angka bukan segalanya.
“Kami ingin tumbuh tanpa merusak,” ujar Ardian, manajer senior PT Esun.
Menurutnya, masa depan industri tak cukup diukur dari volume produksi. “Kami pastikan tak ada limbah mencemari tanah. Karena industri yang baik adalah yang peduli pada bumi dan manusia,” katanya.
Filosofi itu diwujudkan dalam cara perusahaan memperlakukan pekerja. Mulai dari fasilitas kesehatan, jam kerja manusiawi, hingga sistem produksi yang bersih. Di banyak pabrik, buruh sering dianggap angka. Tapi di Esun, mereka adalah nadi.







