Batam – Tingginya iuran pengelolaan lingkungan (IPL) di Perumahan The Icon Central, Batam, menjadi sorotan warga seiring menurunnya kenyamanan kawasan hunian akibat maraknya aktivitas homestay di dalam perumahan tersebut. Warga menilai, besaran IPL yang mencapai ratusan ribu rupiah per bulan tidak sebanding dengan kondisi lingkungan yang kini semakin tidak kondusif.
Keresahan warga memuncak setelah pengembang perumahan, Central Group, membangun dan mengoperasikan homestay dengan menggabungkan sejumlah unit rumah di kawasan yang seharusnya diperuntukkan sebagai zona hunian. Selain homestay milik pengembang, sejumlah unit rumah lain di The Icon Central juga telah lebih dulu dialihfungsikan menjadi penginapan harian.
Aktivitas keluar-masuk tamu yang intens, termasuk tamu asing, disebut mengganggu ketenangan warga yang menetap. Kondisi ini dinilai ironis karena terjadi di tengah beban IPL yang terus berjalan dan dinilai relatif tinggi oleh warga.
Dalam rapat warga yang digelar Senin malam (16/12), Ketua RW Pulomas Herry Sembiring menegaskan bahwa IPL seharusnya menjamin kenyamanan, keamanan, dan ketertiban lingkungan. Namun, realitas yang dirasakan warga justru sebaliknya.
“Warga membayar IPL cukup mahal, mulai dari kisaran Rp700 ribu per bulan. Tapi kenyamanan lingkungan justru menurun karena adanya aktivitas homestay yang jelas bukan peruntukan kawasan perumahan,” tegas Herry.
Ia menilai keberadaan homestay di kawasan hunian tidak hanya melanggar prinsip tata ruang, tetapi juga mencederai hak warga sebagai penghuni tetap. Menurutnya, perumahan bukan zona usaha atau pariwisata, sehingga aktivitas penginapan tidak memiliki dasar hukum yang kuat.






