“Penyesuaian tarif ini tidak dapat dihindari karena kenaikan harga gas dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar yang memengaruhi biaya pokok penyediaan (BPP). Ini adalah upaya penguatan sistem kelistrikan agar kontinuitas dan reliabilitas pasokan tetap terjaga,” bunyi surat dari PLN Batam.
Kebijakan ini memicu reaksi dari dunia usaha. “Kami dapat surat terkait penyesuaian tarif ini dari PLN. Ya pasti lah ada terasa cost kenaikan tersebut nantinya. Kayaknya belum ada sosialisasi. Ga tau juga ya, apa sosialisasi lewat pemberitahuan aja atau gimana sebelumnya. Mungkin kami ga monitor,” ucap salah seorang pengusaha.
Wali Kota Lumbung Informasi Rakyat (LIRA), Herry Sembiring, menilai kenaikan tersebut sangat disayangkan karena dinilai tanpa sosialisasi terbuka dan minim koordinasi dengan legislatif.
“Seharusnya ada dialog lebih dulu, karena ini berdampak langsung pada daya saing industri. Biaya produksi tentu akan melonjak dan menjadikan daya saing Batam kurang kompetitif. Dikhawatirkan investor akan memindahkan lokasi produksinya ke tempat lain. Apalagi Malaysia dan Vietnam sekarang tengah gencar menggaet investor dengan sejumlah insentif dan kemudahan yang mereka berikan,” ujarnya.
Menanggapi kritik tersebut, Manager Komunikasi dan TJSL PT PLN Batam, Novi Hendra, membenarkan adanya penyesuaian tarif. Namun, ia menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada pelanggan yang terdampak.
“Iya, sudah disampaikan ke pelanggan untuk Blok 3-nya,” ujar Novi pada Senin, 19 Mei 2025. Ia menambahkan, “Sudah disosialisasikan ke pelanggannya masing-masing.”












