Batam  

Regulasi Baru FTZ Batam Disorot: Mahasiswa Bongkar Pasal Kritis PP 47/2025 di Forum Madilog UNRIKA

Menurutnya, kebijakan yang baik adalah yang mampu menutup gap layanan publik dan menyelesaikan masalah secara terukur.

  1. Ekonom: Ekonomi Kepri Tumbuh Cepat tapi Rentan Tekanan Global

Ketua Lingkar Akademisi Peduli Pembangun Batam, Dr. Suyono Saputro, memberikan konteks ekonomi Kepri yang tumbuh 7,14% (yoy) pada triwulan II 2025.

“Pertumbuhan kita sehat, tetapi tekanan global nyata—mulai perang tarif sampai kebijakan moneter ketat,” ujarnya.

Namun ia menegaskan Batam tetap menjadi magnet investasi. Industri manufaktur baru terus berdatangan, termasuk perusahaan solar panel yang tengah menunggu keputusan investigasi impor oleh Amerika Serikat.

  1. LAM Batam: Hak Ulayat Harus Jadi Fondasi Perizinan
Baca juga  Tropicana Perkuat Kehadiran Pemasaran di Indonesia, dengan Buka Kantor Baru di Batam

Sorotan paling tajam datang dari Dato Muhammad Yunus, Sekum LAM Kota Batam, yang membedah sisi sosial-kultural PP 47/2025.

Menurutnya, regulasi baru ini mengatur tiga poin krusial:

  • penyesuaian tata kelola FTZ dengan dinamika ekonomi global,
  • pengakuan resmi terhadap wilayah adat dan hak ulayat,
  • serta perluasan KPBPB untuk membuka peluang ekonomi baru.
Baca juga  Cegah Tawuran Pelajar, Polsek Sekupang dan SMKN 4 Batam Buat Akta Komitmen Orang Tua-Sekolah

“Ini regulasi yang mengatur ulang fondasi FTZ Batam. Hak masyarakat adat harus menjadi dasar dalam penataan ruang dan perizinan,” tegas Yunus.

Diskusi Menghangat, Mahasiswa Desak Transparansi Implementasi PP 47/2025

Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa menyoroti persoalan transparansi, potensi tumpang tindih aturan, serta risiko konflik kepentingan jika perluasan wilayah FTZ tidak dibarengi tata kelola yang jelas.

Baca juga  Muhammad Rudi Bentuk Tim Terpadu Tangani Persoalan Buaya Pulau Bulan

“Regulasi baru ini jangan sampai hanya menguntungkan investor besar. Kami ingin melihat peran masyarakat lokal dilindungi,” ujar salah satu peserta forum.

Suasana diskusi berlangsung dinamis dan kritis, mencerminkan keinginan mahasiswa untuk terlibat langsung dalam proses pengawalan kebijakan daerah.

Menjadi Ruang Akademik untuk Mengawal Pembangunan Batam