Operasi Tengah Malam: Pelabuhan Tikus Sekupang Kebanjiran Beras

Aktivitas pengangkutan beras diduga ilegal dari Batam ke Tanjungbatu.

Batam – Malam di kawasan industri Sekupang, Batam, mendadak ramai pada Jumat (19/9/2025) jelang dini hari. Sekitar pukul 23.30 WIB, aktivitas bongkar muat tak biasa terlihat di sebuah dermaga kecil yang kerap disebut warga sebagai pelabuhan tikus. Dermaga ini dikenal sebagai jalur laut alternatif yang rawan dimanfaatkan untuk aktivitas ilegal.

Pantauan di lokasi memperlihatkan sebuah truk mengangkut karung-karung beras berukuran 15 kilogram. Karung-karung itu dipindahkan menggunakan crane ke empat kapal kayu yang bersandar di dermaga. Informasi yang dihimpun menyebutkan, kapal-kapal tersebut diduga berlayar menuju Tanjung Batu, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.

BACA JUGA:  Kenaikan Tarif Parkir di Batam, Ombudsman Justru Temukan Masalah Pengelolaan dan Potensi Kerugian PAD

Wali Kota Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Batam, Herry Sembiring, menyoroti pergerakan beras tersebut. “Batam sebenarnya tidak diizinkan menerima beras luar masuk secara bebas,” ujarnya, menekankan bahwa kota ini memiliki ketentuan ketat soal impor beras.

Penampakan aktivitas bongkar muat beras di salah satu pelabuhan tikus di kawasan Sekupang, Batam.

Herry menambahkan, dari data yang diterimanya, beras berlebih dari Batam kerap dikirim ke Tanjung Batu. “Ini menjadi sorotan kami di LIRA Batam. Kami akan mengumpulkan data lanjutan dan melakukan konfirmasi ke pihak terkait,” tegasnya.

BACA JUGA:  Telkom Rampungkan Proses Pemulihan SKKL Inter Island ruas Tanjung Batu – Pulau Burung, Layanan Kembali Normal

Lebih jauh, LIRA Batam mengutuk keras praktik penyelundupan beras yang terjadi. Menurut Herry, aktivitas itu bertentangan dengan Nawacita Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pemberantasan penyelundupan. Ia menegaskan, Batam sejatinya tidak memiliki kuota impor beras. Namun, entah bagaimana, beras asal Vietnam dan Thailand diduga masuk melalui pelabuhan tikus dengan jumlah yang jauh melampaui kebutuhan masyarakat. “Yang lebih miris, beras itu merembes ke berbagai wilayah di Sumatera seperti Riau, Jambi, dan daerah lain,” ungkapnya.