Ia menambahkan, BP Batam berkomitmen memberikan dukungan penuh terhadap pemenuhan infrastruktur dan alokasi lahan pengembangan BAE. Seluruh proses perizinan lahan dipastikan berjalan transparan melalui Land Management System (LMS).
“Apresiasi juga kami berikan atas penyediaan hunian bagi pekerja. Industri aviasi membutuhkan keterampilan khusus, dan perhatian terhadap kesejahteraan pekerja ini patut menjadi referensi bagi investor lain di Batam,” tambahnya.
Pangkas Ketergantungan MRO Luar Negeri
Direktur DKPPU Kementerian Perhubungan, Sokhib Al Rokhman, menyampaikan bahwa keandalan armada maskapai nasional sangat bergantung pada kemandirian fasilitas perawatan. Kehadiran BAE dinilai menjadi jawaban atas ketergantungan industri aviasi domestik terhadap layanan MRO luar negeri.
“Kita ingin memperkuat kemandirian aviasi nasional dengan mewujudkan BAE sebagai hub MRO yang efisien, responsif, dan kompetitif di pasar Asia. Langkah ini sekaligus memperkuat rantai pasok industri penerbangan dan menghemat devisa negara,” tegas Sokhib.
Sementara itu, President Director Lion Group Capt. Daniel Putut Kuncoro Adi optimistis BAE tidak hanya melayani kebutuhan pemeliharaan pesawat dalam negeri, tetapi juga mampu menggaet pasar pemeliharaan pesawat dari negara-negara tetangga.
“Dengan teknologi terkini dan sertifikasi yang terus kita lengkapi, fasilitas di Batam ini berpeluang besar melayani perawatan mesin pesawat dari berbagai negara sahabat di kawasan regional,” terang Putut.
Turut hadir mendampingi dalam peresmian tersebut Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano, jajaran manajemen Lion Group, BAE, BAT, serta para pemangku kepentingan industri aviasi.






