Ia juga mengapresiasi capaian 43 koperasi di Batam yang memperoleh predikat sehat dan cukup sehat. Menurutnya, koperasi memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah.
Selain menghadirkan program subsidi bunga atau margin 0 persen melalui kerja sama dengan perbankan, Pemko Batam juga terus mendukung pembiayaan usaha melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Pengelolaan Dana Bergulir (PDB) dengan bunga rendah.
Amsakar menyebutkan, tingkat kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) program tersebut berada di angka 2,1 persen, jauh di bawah ambang batas 5 persen.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam, Salim, menjelaskan bahwa kerja sama dengan Bank Sumut merupakan upaya memperluas akses pembiayaan bagi UMKM tanpa dikenakan bunga maupun margin.
Program tersebut ditujukan bagi pelaku usaha, seperti pedagang kecil dan pelaku usaha kuliner, dengan plafon pinjaman awal hingga Rp20 juta tanpa agunan.
Menurut Salim, Bank Sumut menjadi mitra perbankan ketiga dalam program pinjaman margin 0 persen setelah Bank BTN dan Bank Riau Kepri (BRK) Syariah. Saat ini, Pemko Batam juga tengah menjajaki kerja sama dengan Bank Jatim.
“Alokasi anggaran yang disiapkan saat ini mencapai Rp3 miliar. Atas arahan Bapak Wali Kota dan dukungan Bapelitbangda, ke depan diusulkan peningkatan plafon pinjaman dari Rp20 juta menjadi Rp50 juta hingga Rp100 juta agar manfaat program semakin besar bagi pelaku UMKM,” kata Salim.
Ia menambahkan, berdasarkan data Online Data System (ODS) per Juni 2026, terdapat 1.132 koperasi yang terdaftar di Kota Batam, dengan 375 koperasi di antaranya berstatus aktif.












