Menurutnya, terdapat sejumlah tantangan besar yang harus diselesaikan pemerintah apabila pengajaran bahasa Prancis ingin diterapkan secara luas di seluruh Indonesia.
Pertama adalah keterbatasan tenaga pendidik. Saat ini jumlah guru bahasa Prancis yang memiliki kompetensi dan sertifikasi masih sangat minim, terutama di luar kota-kota besar dan wilayah Jawa.
Kedua, pemerintah perlu menyiapkan kurikulum, metode pembelajaran, serta bahan ajar yang terstandarisasi agar pelaksanaan program tidak sekadar menjadi kebijakan di atas kertas.
Ketiga, persoalan pemerataan infrastruktur pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan. Banyak sekolah di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas dasar pembelajaran.
Literasi Dasar Masih Menjadi Tantangan
Di tengah wacana penguatan kompetensi global, Harken mengingatkan bahwa Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan serius dalam meningkatkan budaya literasi dasar masyarakat.
Di berbagai daerah terpencil dan wilayah kepulauan, akses terhadap buku bacaan berkualitas, perpustakaan, hingga sarana belajar yang memadai masih belum merata. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian utama sebelum pemerintah memperluas muatan pembelajaran bahasa asing baru secara nasional.
“Jangan sampai kita terlalu fokus mengejar target global, tetapi melupakan persoalan mendasar yang masih dihadapi anak-anak di berbagai daerah. Literasi dasar yang kuat adalah fondasi utama untuk mempelajari ilmu pengetahuan maupun bahasa asing,” tegasnya.





