Meski demikian, Harken menegaskan bahwa dirinya tidak menolak gagasan pengajaran bahasa Prancis. Ia justru mendukung upaya pemerintah memperluas kemampuan bahasa asing generasi muda Indonesia agar mampu bersaing di tingkat internasional.
Namun menurutnya, implementasi kebijakan harus dilakukan secara bertahap, terukur, dan mempertimbangkan kondisi masing-masing daerah agar tidak menimbulkan kesenjangan baru dalam dunia pendidikan.
Perdebatan mengenai pengajaran bahasa Prancis pada akhirnya tidak hanya berbicara soal bahasa asing semata. Wacana ini membuka diskusi yang lebih luas mengenai arah pembangunan pendidikan Indonesia ke depan: antara mengejar tuntutan globalisasi dan menyelesaikan persoalan mendasar yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah bangsa.
Tantangan pemerintah adalah menemukan titik keseimbangan antara keduanya, sehingga peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dapat berjalan tanpa mengabaikan pemerataan akses dan kualitas pendidikan di seluruh pelosok negeri.





